By: Rendy Pradana
Prolog
Dalam pusaran studi Al-Qur’an kontemporer, nama Julien Decharmeux mungkin belum sepopuler para begawan seperti Angelika Neuwirth atau Gabriel Said Reynolds. Namun, melalui monumen intelektualnya yang bertajuk Creation and Contemplation: The Cosmology of the Qur’an and Its Late Antique Background (De Gruyter, 2023), peneliti dari Brussel ini berhasil meletakkan batu fondasi baru yang merekonstruksi cara pandang kita terhadap kosmologi Al-Qur’an. Buku setebal hampir 300 halaman ini bukan sekadar katalog motif kosmologis yang steril. Karya ini merupakan pembedahan radikal atas asumsi bahwa Al-Qur’an membicarakan langit dan bumi secara hampa konteks atau mandiri. Decharmeux membuktikan hal sebaliknya: kosmologi Qur'ani adalah artikulasi teologis yang disamarkan, sebuah maklumat diskursif menentang dualisme, sekaligus undangan askesis (olahraga spiritual) yang diwarisi dari pergulatan sengit antara Kristen Suryani, Yahudi Rabinik, dan filsafat Yunani di masa akhir antik (Late Antiquity).
Menyoal “Kemandirian” Kosmologi Al-Qur’an: Ketika Langit Berkata dengan Bahasa Suryani
Decharmeux mengawali argumennya dengan sebuah tesis yang provokatif: Al-Qur’an tidak pernah mendiskusikan kosmos demi kosmos itu sendiri. Setiap kali teks suci mengartikulasikan narasi tentang langit, bumi, gugusan bintang, atau fenomena presipitasi (hujan), ia sedang menjalankan agenda yang jauh lebih ambisius—mengarsiteki sebuah “teologi natural” (natural theology) yang memosisikan alam semesta sebagai panggung teater ilahi.
Decharmeux menunjukkan bahwa struktur retoris ini—yang mengarahkan manusia untuk mengonstruksi makna di balik tanda-tanda (’āyāt) alam—bukanlah produk orisinalitas kultural Arab pra-Islam. Narasi tersebut merupakan warisan langsung dari tradisi kontemplasi Kristen yang berkembang pesat sejak abad ke-4 Masehi. Mulai dari para Bapa Cappadocia (Basil dari Kaisarea, Gregorius dari Nyssa), Evagrius Ponticus, hingga teolog Suryani seperti Efrem dari Nisibis dan Yakub dari Sarugh, terdapat konsensus teologis bahwa "Kitab Alam" dan "Kitab Suci" adalah dua saksi yang tak terpisahkan dari sang Pencipta. Decharmeux dengan cemerlang membuktikan bahwa Al-Qur’an, dengan segala keunikan retorikanya, berdiri di ujung lintasan tradisi panjang ini—bukan sebagai anomali sejarah, melainkan sebagai penerus yang transformatif sekaligus memiliki keterbatasan informasional.
Membongkar “Penciptaan dari Tiada”: Keheningan yang Berbicara
Salah satu segmen paling krusial dalam buku ini adalah analisis Decharmeux mengenai doktrin creatio ex nihilo(penciptaan dari ketiadaan absolut). Dalam ortodoksi teologi Kristen, doktrin ini menjadi benteng dogmatis untuk menolak gagasan keabadian materi (eternity of matter) serta menegaskan bahwa Tuhan tidak terikat pada materi pra-eksisten.
Namun, Decharmeux mengajukan klaim berani: Al-Qur’an secara mencolok tidak mengartikulasikan doktrin ini secara eksplisit. Melalui pelacakan kritis terhadap ayat-ayat yang kerap dijadikan legitimasi teologis (seperti QS. 19:9, 19:67, 52:35), ia membuktikan bahwa teks-teks tersebut sekadar berbicara mengenai “ketiadaan ontologis” (perubahan status dari sesuatu yang belum mewujud menjadi eksis), bukan tentang ketiadaan material secara mutlak.
Lebih jauh, Decharmeux menemukan bahwa leksikon “penciptaan” dalam Al-Qur’an—seperti kata khalaqa, bada’a, fatara, dan bara’a—secara etimologis justru berakar pada aktivitas “membentuk”, "membelah", atau “mengukur” suatu substansi yang sudah ada. Ia menyimpulkan bahwa para audiens awal Al-Qur’an, meskipun akrab dengan polemik Kristen seputar penciptaan, tampaknya hanya menyerap diskursus tersebut secara terfragmentasi. Mereka mewarisi slogan-slogan polemik tanpa mengadopsi seluruh kompleksitas teologis di baliknya. Temuan ini menantang para pemikir dan teolog Muslim kontemporer untuk menguji kembali fondasi teologis doktrin penciptaan mereka.
Kolom-Kolom yang Tak Terlihat: Dialektika Al-Qur’an dan Yakub dari Sarugh
Bab keempat dari karya ini merupakan sebuah contoh rigid dari analisis intertekstualitas. Decharmeux mempertemukan motif “langit tanpa tiang” (QS. 13:2, 31:10) dengan literatur Suryani, khususnya karya homili (mīmrē) milik Yakub dari Sarugh (w. 521 M). Ia menemukan paralelisme yang begitu presisi—baik secara tematis maupun linguistik—sehingga ia berani mengategorikannya sebagai bentuk “hipertekstualitas”: hampir setiap unit semantik dalam ayat Al-Qur’an menemukan jangkar tekstualnya dalam korpus Suryani.
Bahkan metafora mengenai “burung yang terbang bebas di angkasa” (QS. 16:79) yang sekilas tampak sebagai observasi alamiah yang polos, ternyata memiliki padanan eksak dalam homili Yakub mengenai pemeliharaan ilahi (providentia). Decharmeux tidak menggunakan cara pandang naif yang menuduh Al-Qur’an melakukan plagiarisme terhadap Yakub. Argumennya lebih subtil: kedua teks ini bersaksi atas kepemilikan tradisi kosmologis yang sama, sebuah common repertoire (kumpulan gagasan bersama) yang bersiklus kuat di wilayah Edessa dan Mesopotamia pada abad ke-6 hingga ke-7 Masehi. Fakta ini meruntuhkan klaim bahwa Al-Qur’an lahir dari ruang hampa kultural yang terisolasi di pedalaman Arab.
Tujuh Langit dan Bumi yang Tersembunyi: Resepsi Yahudi dalam Kosmologi Qur’anik
Penelusuran genealogi dalam buku ini tidak melulu bermuara pada Kekristenan Suryani. Decharmeux secara objektif menunjukkan bahwa motif “tujuh langit” (QS. 2:29, 41:12, 65:12, 67:3) yang diartikulasikan secara repetitif dalam Al-Qur’an justru berakar kuat pada tradisi Yahudi Rabinik, bukan Kristen arus utama. Ia merujuk pada teks-teks Midrash Rabbah, Talmud Babilonia, serta literatur mistisisme Hekhalot yang secara eksplisit mengonseptualisasikan struktur alam semesta dalam tujuh lapis langit dan tujuh lapis bumi.
Analisisnya terhadap QS. 65:12 (“Allah yang menciptakan tujuh langit dan dari bumi sebanyak itu”) membuktikan bahwa gagasan “bumi tujuh lapis” merupakan penanda khas kosmologi Yahudi yang hampir tidak mendapat tempat dalam ortodoksi Kristen. Decharmeux tidak menyembunyikan karakter eklektik dari teks Al-Qur’an; ia justru menjadikannya sebagai objek analisis yang kaya. Baginya, Al-Qur’an adalah sebuah mosaik, bukan monolit—sebuah teks bertenaga yang berdiri di persimpangan jalan intelektual antara Antiokhia, Yerusalem, dan Ktesiphon, yang secara cerdas menyerap unsur-unsur tradisi sekitar demi menyukseskan program teologis monoteismenya yang ketat.
Transendensi, Pembangkangan Malaikat, dan Antropogoni dari Tanah Liat
Pada bagian akhir, buku ini membedah narasi antropogoni (asal-usul manusia) serta penciptaan makhluk celestial (malaikat). Decharmeux menunjukkan betapa koherennya ketergantungan Al-Qur’an pada tradisi eksegesis Yudeo-Kristen terkait figur Adam dan makhluk spiritual. Ia menemukan bahwa narasi pembangkangan Iblis yang menolak bersujud karena merasa superioritas unsurnya yang terbuat dari api (QS. 7:12) memiliki paralel langsung dalam teks apokrif Kristen seperti Gua Harta Karun (The Cave of Treasures) dan Pertanyaan-pertanyaan Bartolomeus.
Lebih jauh, Decharmeux menganalisis frasa antropomorfis “Aku menciptakanmu dengan kedua tangan-Ku” (QS. 38:75) dan mengorelasikannya dengan perdebatan panjang para Bapa Gereja. Dalam tradisi patristik, diskusi mengenai mengapa Tuhan tidak sekadar menggunakan firman perintah (Fiat! / "Jadilah!") saat menciptakan Adam bertujuan untuk mengafirmasi martabat luhur manusia sekaligus menegaskan bahwa Tuhan tidak memerlukan perantara fisis. Melalui pembacaan ini, Al-Qur’an kembali menampilkan dirinya sebagai mitra dialog yang responsif terhadap diskursus teologis masanya, meskipun kerap kali melakukan simplifikasi terhadap kompleksitas aslinya.
Penutup: Sebuah Undangan untuk Membaca Al-Qur’an dengan Mata Akhir Zaman
Creation and Contemplation bukanlah bacaan yang didesain untuk sekadar mengafirmasi kemapanan teologis. Buku ini merupakan undangan akademik untuk meneliti Al-Qur’an sebagai peristiwa sejarah—sebuah teks yang bernapas dan berinteraksi di dalam ekosistem intelektual yang dinamis, sarat polemik, hibriditas, penolakan, sekaligus inovasi.
Decharmeux tidak sedang mereduksi otoritas Al-Qur’an; ia justru memperkaya kedalaman historisnya. Dengan melacak jangkar genealogis dari motif langit tanpa tiang, burung di angkasa, hingga bumi berlapis tujuh, ia mengajak kita untuk melihat dimensi kemanusiaan yang agung di balik proses resepsi wahyu itu sendiri. Karya ini menjadi referensi esensial bagi siapa saja yang meyakini bahwa sebuah teks sakral akan tampak jauh lebih bertenaga ketika akar-akar historisnya berhasil diurai secara ilmiah, bukan justru dipangkas.
Identitas Buku:
Judul Buku : Creation and Contemplation: The Cosmology of the Qur'ān and Its Late Antique Background
Penulis : Julien Decharneux
Seri : "Studies in the History and Culture of the Middle East", Vol. 47
Penerbit : De Gruyter, Berlin
Terbit : 2023 (Januari)
ISBN : 978-3110794014 (Hardcover) 978-3110794021 (eBook)
Halaman : 297 halaman (xii + 297)
Bahasa : Inggris
How to cite this article:
Rendy Pradana, "Mencuri Api dari Langit: Dekonstruksi Kosmologi Al-Qur’an Melalui Lensa Kekristenan Akhir Zaman", elbranstalk.com (blog), 14 Juli 2026, [link], diakses pada tanggal [tanggal diakses].