By: Ahmad Dzaki Azkiya
Bagian usthuri merupakan dimensi yang menarik dalam karya Muhammad Ahmad Khalafullah. Ia berani untuk membahas kategori narasi ini yang membuktikan komitmen mendalam terhadap pemahaman Al Qur’an. Narasi mistis dalam kerangka Khalafullah dibangun atas fondasi usthur. Yaitu sebuah narasi kuno yang telah bertahan melampaui zaman dalam bentuk tulisan maupun lisan. Berbeda dengan anrasi Sejarah yang berupaya merekam peristiwa actual, usthur umumnya dikaitkan dengan fenomena luar biasa. Mukjizat yang menentang hukum alam, intervensi Ilahi yang dramatis, atau peristiwa yang melampaui logika kausalitas manusiawi. Yang terpenting, narasi ini dibangun bukan untuk menyampaikan sejarah pada zamannya sendiri. Melainkan sebagai sarana menyampaikan peringatan moral dan hikmah. Narasi ushturi berfungsi sebagai wahana penyampaian nilai-nilai universal yang relevan bagi setiap generasi. Pada akhirnya, yang dipersoalkan bukanlah keberadaan narasi sejarah itu sendiri, melainkan bagaimana kisahitu disajikan. Bagaimana susunan sastranya, retorika, atau segi artistiknya.
Peran usthur tidak menekankan keterbuktian sejarah dalam narasinya. Sebagaimana yang disebutkan Khalafullah mengenai anggapan mitos kisah Ashabul Kahfi, bahwa hal tersebut bukanlah kesalahan. Akan tetapi hal ini lah yang membuktikan cara sastrawi bekerja, dan sebagaimana dengan agama-agama besar yang lain. Cukup bagi kita untuk berbangga bahwa kitab suci kita telah menetapkan tradisi dan meletakkan aturan, serta mendahului yang lain di bidang-bidang ini. Dari sini, Khalafullah menunjukkan bahwa para orientalis terjebak dalam kesalahan yang fundamental. Mereka gagal memahami posisi Al Qur’an yang tidak selalu berpretensi sebagai dokumen sejarah dalam pengertian modern. Jauh dari itu, Al Qur’an memiliki agenda literer, teologis, dan moral yang jauh lebih kompleks daripada sekedar pencatatan kronologis peristiwa masa lalu.
Khalafullah juga memberikan peringatan metodologis yang penting. Bahwa al-qiṣṣa al-usṭūriyya tidak dapat diterjemahkan dengan simplitis sebagai ‘cerita mitos’. Dua kata ini berbeda dan memiliki konotasi historis yang kompleks. Jika dilihat dalam tradisi Yunani Kuno, mitos dipahami sebagai oposisi biner dengan logos. Kata mitos juga seringkali membawa konotasi umum yang mengarah pada hal-hal negatif. Dianggap sebagai sesuatu yang tidak benar, fiktif, dan bahkan bohong. Sehingga, jika hal ini dilekatkan dengan narasi religius, kata ini dipersepsikan sebagai sebuah upaya untuk mendiskreditkan sakralitas teks.
Usthur dalam tradisi Arab memiliki akar dalam khazanah sastra pra-islam dan awal islam. Terutama dalam rentangan Makkah. Sebab, masyarakat Makkah tidak memiliki ketetapan aspek budaya demikian dan memiliki genggaman budaya yang mereka miliki. Ketika mendengar gaya sastrawi semacam ini mereka mengingkarinya. Sehingga, masuknya narasi usthur membuka sebuah jalan sastrawi baru di Makkah dengan turunnya Al Qur’an. Sedangkan periode madinah tidak menempatkan materi ini karena lingkungan Madinah yang telah bersinggungan lebih banyak dengan budaya ktiab suci. Dalam kitab-kitab sebelumnya, usthur dipergunakan untuk menjelaskan sebuah gagasan atau untuk mewakili dan mewujudkan suatu doktrin. Dan hal ini merupakan sebuah cara yang dikenal oleh Ahlul Kitab.
Konsepsi usthur menunjukkan salah satu gaya penyampaian yang dibawa Al Qur’an. Pendekatannya menunjukkan bahwa keimanan terhadap Al Qur’an sebagai wahyu ilahi tidak mengharuskan pembacaan literal dan historis terhadap setiap narasi yang disampaikannya. Sebaliknya, justru dengan memahami dimensi ini justru memperkaya apresiasi kita terhadap kecanggihan retoris dan tujuan moral Al Qur’an. Melalui hal ini, pemahaman mengenai usthur mengantarkan kita untuk melampaui kebenaran yang terikat ruang dan waktu. Membuka cakrawala pemahaman mengenai kebenaran narasi religius dalam dimensi yang lebih intim. Meliputi kebenaran moral, spiritual, dan eksistensial yang melampaui fakta-fakta historis semata.