Di Balik Lembar Usang: Menyingkap Karakter dan Makna Mushaf Kuno

By: Wahyu Fitria

Di balik sunyi lembaran mushaf kuno, tersimpan kisah panjang tentang jejak sejarah dan denyut pendidikan Islam yang kerap luput dari perhatian. Di tengah arus modernitas, keberagaman mushaf kuno sering dipandang sekadar artefak statis tanpa upaya pembacaan yang mendalam terhadap karakteristik dan nilai historis dan edukatif yang dikandungnya. Berangkat dari kegelisahan tersebut, tulisan ini akan menelaah dua aspek utama: karakteristik mushaf kuno di Nusantara serta nilai-nilai yang melekat di dalamnya, guna menghadirkan pemahaman yang lebih utuh tentang perannya dalam sejarah dan  tradisi keilmuan Islam. 

Karakteristik Mushaf Kuno Nusantara

Pada umumnya karateristik mushaf  kuno  di Nusantara  sangat  beragam. Ragam itu tampak jelas pada pilihan kaligrafi, dari gaya naskhi yang rapi hingga sapuan tinta emas yang menandai ayat dan permulaan surah dengan kemegahan visual. Dalam perspektif Yahya, naskah mushaf alqur’an sebagai artefak kebudayaan    mencermikan    masyarakat    yang menciptakannya (Yahya & Aini, 2017). Karena peninggalan tersebut    merupakan kebudayaan,  social,  dan perekonomian orang-orang terdahulu. 

Lebih jauh, kategorisasi mushaf kuno memperlihatkan bahwa setiap lembar menyimpan jejak sejarah yang terstruktur dan dapat ditelaah secara ilmiah. Melalui kajian langsung terhadap koleksi di Meseum Aceh, Meseum Nasional Jakarta, serta manuskrip dari pesantren dan kesultanan lokal, Aldi Ansyah dan Haerul Iman berhasil merumuskan pola-pola khas yang terdapat pada Mushaf-Mushaf Kuno (Saputra & Iman, 2025). Berikut ini pengkatagoriannya:

Kaligrafi dan Gaya Tulisan

  1. Umumnya menggunakan khat Naskhi, Tsuluts, serta ada yang menyerupai tulisan Arab Pegon.

  2. Tulisan cenderung tidak seragam (karena ditulis tangan).

  3. Harakat terkadang tidak lengkap. 

  4. Penambahan doa-doa populer (doa khatam al-Qur’an atau doa awal pembacaan surah).


Bahan dan Media Penulisan

  1. Kertas Eropa (khususnya pasca abad ke-18).

  2. Kertas dari kulit kayu.

  3. Kulit hewan pada mushaf yang lebih tua. 

  4. Tinta dari bahan alami (arang, kunyit, emas dan getah pohon). 


Iluminasi dan Dekorasi

  1. Terdapat hiasan dekoratif yang rumit bagian awal surah. 

  2. Motif-motif banyak menampilkan Flora (bunga, daun, sulur). 

  3. Terkadang ada motif lokal seperti gunungan, burung merak atau kapal. 

  4. Warna yang digunakan seringkali emas, merah, bitu tua, dan hitam.


Bahasa dan Catatan Pinggir

  1. Beberapa mushaf menyisipkan terjemah atau tafsir singkat dalam bahasa lokal.

  2. Tulisan tersebut menggunakan huruf Arab Jawi.



Tujuan Penulisan

  1. Sebagai sarana pengajaran dan dakwah.

  2. Ditulis sebagai hadiah atau waqaf.


Nilai Historis dan Edukasi dalam Mushaf Kuno 

Nilai Historis


Mushaf kuno menyimpan jejak awal penyebaran Islam di Nusantara sebagai sumber primer yang merekam perjalanan dakwah lintas wilayah (Perangin-Angin & dkk, 2026). Persebarannya di Aceh, Sumatera Selatan, Jawa, hingga kawasan lain menandai jalur perniagaan sekaligus rute penyebaran ajaran Islam yang bergerak bersama mobilitas masyarakat. 

Lebih dari itu, keberadaan mushaf hasil salinan ulama lokal atau diproduksi atas perintah sultan menegaskan peran penting otoritas keagamaan dan politik dalam merawat tradisi keilmuan Islam. Kolofon (catatan penyalin yang menyebutkan nama penulis, tanggal dan tempat penyalinan) menjadi bukti konkret praktik intelektual yang terorganisasi (Saputra & Iman, 2025). Sementara unsur hiasan lokal dan penggunaan bahasa daerah memperlihatkan bahwa Islam hadir melalui proses asimilasi yang lentur, membentuk wajah keberislaman yang khas Nusantara. 

Nilai Edukasi

Dalam ranah pendidikan, mushaf kuno berfungsi sebagai medium utama pembelaaran al-Qur’an sebelum hadirnya teknologi cetak. Di pesantren, surau, dan madrasah tradisional, mushaf tulisan tangan digunakan untuk melatih kemampuan membaca sekaligus menghafal secara langsung. Interaksi fisik dengan teks ini menciptakan kedekatan intelektual dan spiritual yang membentuk tradisi belajar yang mendalam (Saputra & Iman, 2025). 

Selain sebagai sarana membaca, mushaf kuno juga menjadi ruang pembelaaran seni dan keterampilan intelektual. Para santri dan juru tulis mempelajari teknik penyalinan serta seni iluminasi sebagai bagian dari disiplin keilmuan yang terintegrasi. Dengan demikian, mushaf tidak hanya mendidik dalam aspek religuis, tetapi juga membentuk kepekaan estetika dan ketelitian akademik yang menjadi ciri tradisi intelektual Islam klasik. 

Epilog

Melalui penelusuran karakteristik serta nilai historis dan edukatifnya, mushaf kuno terbukti bukan sekadar peninggalan visual, melainkan sumber pengetahuan yang menjelaskan bagaimana Islam tumbuh, diajarkan dan dihidupi di Nusantara. Dengan memahami bentuk, isi, serta konteks kemunculannya, pandangan yang menyempitkan mushaf sebagai artefak pasif dapat diluruskan menjadi pemahaman yang lebih jelas dan berbasis data. Tulisan ini menyadarkan bahwa membaca mushaf kuno berarti membaca jejak ulama, tradisi belajar, dan proses kebudayaan yang masih relevan untuk dipahami dan dijaga hingga hari ini. 

Wallahu a’lam bishawab.

Referensi: 

Danial Firdaus Perangin-Angin, dkk. “Koleksi Mushaf Museum Sejarah Al-Qur’an: Bukti Material Dinamika Islamisasi Di Sumatera Utara”. Didaktik: Jurnal Ilmiah PGSD FKIP  Universitas Mandiri, Vol. 12, No. 01, (2026). Hlm. 76-90. 

Muhammad Yahya & Adrika Fithrotul Aini. “Karakteristik dan Fragmen Searah Manuskrip Mushaf Al-Qur’an Dola Bakri Wonolelo Pleret Bantul.” Jurnal Keilmuan Tafsir Hadits, Vol. 7, No. 2 (2017). Hlm. 237. 

Aldi Ansyah Saputra & Haerul Iman. “Manuskrip Kajian Al-Qur’an Mushaf Kuno”. JICN: Jurnal Intelek dan Cendikiawan Nusantara, Vol. 2, No. 4 (2025). Hlm. 3046-4560.