By: Ummatun Marhumah Ayu Qur'ani
Ada paradoks menarik dalam sejarah tafsir modern: dua pemikir yang hidup di bawah tekanan sekularisme justru menjawabnya bukan dengan argumentasi politik, melainkan dengan keheningan sufistik. Apakah ini mundur ke belakang, ataukah justru langkah paling strategis yang bisa diambil?
Bayangkan jika kita hidup di negara yang menyuruh kita melupakan Tuhan. Bukan dengan kekerasan, tapi dengan peradaban. Gedung-gedung tinggi, musik Barat, filsafat materialistik, dan undang-undang sekuler perlahan-lahan menggantikan ruang yang dulu diisi oleh dzikir dan majelis ilmu. Di sinilah Said Nursi dan Fethullah Gulen hidup, saat Turki di bawah bayang-bayang modernitas agresif (Fawaid, 2015).
Dalam artikel berjudul Paradigma Sufistik Tafsir al-Qur'an Bediuzzaman Said Nursi dan Fethullah Gulen, Ah. Fawaid menganalisis bagaimana dua tokoh tersebut menggunakan pendekatan sufistik dalam membaca al-Qur'an sebagai respons terhadap tantangan zaman mereka. Dengan menggunakan teori sejarah sosial pemikiran tafsir, Fawaid menunjukkan bahwa tasawuf bukan lagi domain para pertapa di sudut pesantren, melainkan menjadi strategi intelektual yang relevan di tengah gelombang sekularisasi.
Nursi dan Tafsir yang Lahir dari Kegelisahan
Dalam sejarahnya yang panjang, tafsir al-Qur'an selalu lahir dari kebutuhan. Para ulama klasik menafsirkan al-Qur'an untuk menjawab pertanyaan hukum, menyusun argumen teologi, atau memperindah pemahaman bahasa. Setiap generasi membawa kebutuhannya sendiri, dan dari kebutuhan itulah tafsir terus berkembang. Nursi dan Gulen tidak berbeda, hanya saja kebutuhan yang mereka hadapi jauh lebih mendesak dan lebih personal. Bagaimana mempertahankan keimanan umat yang sedang berdiri di persimpangan antara tradisi Islam dan modernitas barat yang terus menggerus. Dalam kerangka epistemologi tafsir kontemporer, pendekatan semacam ini masuk dalam kategori tafsir era afirmatif, di mana nalar ideologis dan konteks sosial turut membentuk cara seorang mufasir membaca teks (Mustaqim, 2010).
Nursi, misalnya, tidak pernah mengklaim karya monumentalnya Rasā'il an-Nūr sebagai tafsir sufistik. Ia bahkan menegaskan bahwa gerakannya bukan tarekat dan pendekatannya bukan sufisme dalam pengertian konvensional. Namun Fawaid berargumen bahwa nuansa sufistik tetap mengaliri setiap uraiannya — bukan sebagai klaim identitas, melainkan sebagai rasa yang mewarnai cara ia membaca teks. Nursi memadukan akal ('aql) dan hati (qalb) dalam satu bingkai tafsir, tidak memilih salah satunya (Nursi, 2019).
Bagi Nursi, iman adalah kebutuhan pokok, seperti roti yang tidak bisa digantikan oleh apapun. Sementara tasawuf hanyalah pelengkap. Dalam konteks Turki yang sedang digempur sekularisasi, yang paling mendesak baginya bukan memperdebatkan maqam-maqam sufi, melainkan menyelamatkan keimanan umat yang mulai goyah. Tafsirnya pun lahir dari kesadaran itu: bukan proyek akademis, melainkan proyek keselamatan.
Gulen dan Tasawuf yang Membumi
Gulen mengambil posisi yang lebih tegas. Ia tidak ragu menyebut sufisme sebagai jiwa Islam, dan menegaskan bahwa sumber utamanya adalah al-Qur'an dan Sunnah — bukan filsafat Yunani atau tradisi mistisisme asing. Ini penting karena langsung menjawab tuduhan bahwa tasawuf adalah produk impor yang dipaksakan ke dalam Islam.
Yang paling menarik dari Gulen adalah bagaimana ia mengubah citra tasawuf dari yang selama ini dipandang pasif dan menarik diri menjadi aktif dan terlibat. Purifikasi diri tidak lagi hanya terjadi dalam keheningan meditasi di bawah bimbingan syekh, tapi melalui aksi sosial yang nyata dan terus-menerus di tengah masyarakat. Gulen mendirikan sekolah, lembaga jurnalistik, dan jaringan dialog antaragama, semua itu, baginya, adalah bentuk tasawuf yang hidup.
Cara Gulen membaca ayat pun mencerminkan hal ini. Ia tidak berhenti pada tafsir literalis. Ketika berhadapan dengan ayat-ayat al-Qur’an yang secara harfiah berbicara tentang tindakan fisik, ia menawarkan lapisan makna yang lebih dalam: tentang perang melawan nafsu, tentang kematian ego, tentang kebangkitan ruhani. Ini adalah hermeneutika yang tidak hanya menjelaskan teks, tapi mengajak pembacanya untuk berubah.
Membantah Goldziher dari Dalam Teks
Salah satu argumen paling kuat dalam kajian Fawaid adalah bagaimana karya Nursi dan Gulen secara tidak langsung membantah tesis Ignaz Goldziher, adalah orientalis yang berpendapat bahwa tasawuf adalah doktrin asing yang dipaksa masuk ke dalam Islam dan sama sekali tidak bersumber dari al-Qur'an.
Kenyataannya justru sebaliknya. Nursi dan Gulen membangun seluruh bangunan sufistik mereka dari dalam al-Qur'an dan Sunnah. Tidak ada yang dipinjam dari luar; semuanya digali dari penghayatan mendalam terhadap pesan-pesan Qur'ani tentang zuhud, tawakkal, dan makrifat. Ini bukan hanya bantahan historis, melainkan sebuah pernyataan epistemologis, “Islam memiliki sumber daya internal yang cukup untuk bernegosiasi dengan modernitas tanpa harus meminjam dari tradisi lain.” Dan itu, menurut saya, adalah pesan yang sangat relevan hari ini.
Apa yang Bisa Kita Pelajari?
Kontribusi terbesar Nursi dan Gulen bukan pada elaborasi teknis metode tafsirnya, melainkan pada sikap epistemologis yang mereka tunjukkan: bahwa akal dan hati tidak perlu dipertentangkan. Bahwa al-Qur'an cukup kaya untuk dibaca secara ilmiah sekaligus spiritual. Bahwa menjawab modernitas tidak selalu berarti memeluknya atau menolaknya — bisa juga dengan cara yang lebih halus yaitu berdialog dengannya dari dalam akar tradisi sendiri.
Fawaid mencatat bahwa keduanya adalah figur yang lebur bersama komunitasnya, sehingga tafsir yang mereka hasilkan lebih bernuansa populis ketimbang perdebatan akademis semata. Inilah ironi yang indah: pendekatan yang paling sufistik justru menghasilkan tulisan yang paling membumi dan paling mudah menyentuh orang biasa.
Pelajaran dari Nursi dan Gulen sebenarnya sangat relevan buat kita di Indonesia. Kita sering melihat dua kubu yang saling tarik, ada yang terlalu kaku dalam beragama, ada pula yang terlalu larut dalam spiritualitas tanpa mau terlibat dalam persoalan nyata. Nursi dan Gulen menawarkan jalan tengah — beragama dengan akal yang jernih, hati yang hidup, dan kaki yang tetap berpijak di bumi. Cara yang tidak memisahkan akal dari hati, tidak memisahkan spiritualitas dari kehidupan nyata. Tafsir, bagi mereka, bukan sekadar kegiatan membaca dan menjelaskan teks suci. Ia adalah cara untuk bertahan di tengah zaman yang terus berubah.
References
Fawaid, Ah. "Paradigma Sufistik Tafsir Al-Qurâ'an Bediuzzaman Said Nursi dan Fethullah Gulen". Suhuf, 8(1), 2015, https://doi.org/10.22548/shf.v8i1.16
Mustaqim, M. Epistemologi Tafsir Kontemporer. LKiS. 2010
Nursi, B. S. Mukjizat al-Qur’an. Risalah Nur Press, 2019.