By: Atta Dzakia Ramadhani
Pernahkah kamu mendengar seseorang yang sedang tertimpa masalah berat, lalu dengan cepat dinasihati, “Sudahlah, tidak usah dipikirkan, itu semua sudah takdir Allah”? Di permukaan, kalimat ini terdengar sangat religius. Namun, jika dibedah lewat kacamata psikologi dan dinamika teks Al-Qur'an, respons instan ini sering kali bukan tanda ketakwaan, melainkan mekanisme pertahanan ego yang rapuh.
Fenomena ini oleh psikolog John Welwood disebut sebagai spiritual bypassing, yaitu kecenderungan menggunakan ide, jargon, atau praktik spiritual untuk menghindari, menyangkal, dan melarikan diri dari luka emosional, konflik psikologis, atau tugas perkembangan hidup yang belum selesai (Welwood, 2000: 11). Jargon agama didegradasi fungsinya dari alat transformasi jiwa menjadi sekadar kosmetik untuk menyembunyikan ketidakberdayaan.
Al-Qur'an Bukan Obat Bius Pasif
Di titik inilah kita perlu membaca ulang Al-Qur'an secara jernih. Merujuk pada analisis Fazlur Rahman, ajaran moral Al-Qur'an menolak kepasifan manusia (passive virtue), ialah sifat dari orang-orang yang memiliki keutamaan dan berhasil membangun kesalehan pribadi. Rahman menegaskan bahwa akar dari seluruh pandangan dunia moral Al-Qur'an adalah keyakinan bahwa kebaikan aktif (active goodness) pada akhirnya harus menang dibandingkan dengan yang pasif. Ditemukan bahwa kelompok yang diselamatkan dalam Al-Qur’an bukanlah orang-orang yang hanya diam saleh sendiri, namun mereka adalah agen perubahan yang ikut berjuang bersama Nabi mereka untuk memperbaiki masyarakat (Rahman, 1980: 55).
Lebih lanjut, Rahman menjelaskan bahwa segala masalah moral manusia sebenarnya bersumber dari satu kelemahan dasar, yaitu sifat kerdil moral (da‘f) dan kesempitan berpikir (qatr) (Rahman, 1980: 25). Sifat kerdil inilah yang membuat manusia menjadi makhluk yang mudah panik dan hanya terpaku pada kepentingan jangka pendek yang instan (dunyā) sambil mengabaikan konsekuensi moral jangka panjang (al-ākhira).
Dampak paling fatal dari pengabaian tanggung jawab ini adalah disintegrasi kepribadian. Al-Qur'an memperingatkan: “Janganlah kamu menjadi seperti orang-orang yang melupakan Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri” (Rahman, 1980: 21). Dalam kacamata ini, spiritual bypassing adalah manifestasi nyata dari upaya melarikan diri; sebuah upaya melompati proses penyelesaian masalah yang rumit demi kenyamanan emosional semu. Hal ini sejalan dengan kritik keras Rahman yang menegaskan bahwa ibadah ritual tanpa komitmen sosial untuk menciptakan keadilan adalah sebuah “kepura-puraan belaka” (mere farce) (Rahman, 1980: 62).
Belajar Teologi Aksi dari Nabi Yusuf
Jawaban Al-Qur'an terhadap gejala pelarian spiritual ini terekam dalam penafsiran M. Quraish Shihab atas QS. Yusuf: 54, terjadi peralihan krusial dari status Yusuf sebagai narapidana yang terzalimi menjadi pengelola urusan negara yang dipercaya penuh oleh Raja (Shihab, 2002: 483-484). Menariknya, Yusuf tidak memilih menjadi sufi pasif yang menarik diri dari dunia. Beliau justru mengambil langkah taktis dengan meminta mandat mengelola perbendaharaan negara.
Nabi Yusuf tidak melakukan spiritual bypassing dengan hanya mengajak rakyat berdoa menanti mukjizat, melainkan turun tangan secara profesional karena beliau memiliki integritas (ħafīz) dan kompetensi ilmiah (‘alīm) (Shihab, 2002: 484). Tindakan ini menunjukkan kepercayaan diri dan keberanian moril untuk mengambil tanggung jawab nyata di tengah krisis pangan (Shihab, 2002: 485).
Dekonstruksi Sabar dan Tawakal
Berdasarkan teladan tersebut, kita harus mengembalikan makna kosakata kunci wahyu ke sifat aslinya yang berorientasi aksi. Sabar, dalam analisis Rahman, bukanlah diam meratapi nasib, melainkan “ketabahan dan keteguhan hati” (determination and steadfastness) dalam perjuangan yang konsisten (Rahman, 1980: 82).
Begitu pula dengan tawakal. Rahman menegaskan adanya “Hukum Allah yang tidak berubah bahwa Dia tidak akan mendatangkan hasil tanpa upaya manusia” (Rahman, 1980: 64). Maka, tawakal bukanlah alasan untuk mogok berikhtiar, melainkan sandaran mental yang baru muncul setelah seluruh energi perjuangan dikerahkan.
Spiritualitas yang sehat memberikan keberanian untuk menghadapi masalah dengan kaki yang tetap berpijak di bumi. Sudah saatnya kita berhenti menggunakan ayat-ayat Tuhan sebagai tameng pelarian dan mulai berani jujur serta bertindak nyata atas hidup kita sendiri.
Referensi:
Rahman, Fazlur. (1980). Major Themes of the Qur'an. Chicago: University of Chicago Press.
Shihab, M. Quraish. (2002). Tafsir Al-Misbah: Pesan, Kesan dan Keserasian Al-Qur'an (Vol. 6). Jakarta: Lentera Hati.
Welwood, John. (2000). Toward a Psychology of Awakening: Buddhism, Psychotherapy, and the Path of Personal and Spiritual Transformation. Shambhala Publications.
How to cite this article:
Atta Dzakia Ramadhani, "Menggugat Kesalehan Palsu: Anatomi Spiritual Bypassing dalam Konsumsi Agama Modern", elbranstalk.com (blog), 17 Juli 2026, [link], diakses pada tanggal [tanggal diakses].