By: Akhmad Aidil Fitra
Dosen IAIN Curup/ Mahasiswa S3 Studi Islam UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu, Konsentrasi Al-Qur’an Dan Hadits
Bagaimana logika platform digital mengubah cara kita menerima dan menyalahpahami Al-Qur’an.
Setiap hari, jutaan pengguna Muslim membuka Instagram, TikTok, atau Twitter (X), dan di sana mereka menemukan ayat Al-Qur’an terpotong, terisolasi, dan dikemas dalam desain grafis yang memanjakan mata. Tidak ada konteks, tidak ada sanad, tidak ada penjelasan mufassir. Yang ada hanyalah caption pendek dan ribuan likes. Ini bukan sekadar persoalan estetika digital ini adalah persoalan epistemologis yang menyentuh cara umat Islam membangun pengetahuan tentang kitab suci mereka.
Inilah yang oleh Marshall McLuhan disebut sebagai konsekuensi dari “the medium is the message.” Dalam Understanding Media: The Extensions of Man (1964), McLuhan berargumen bahwa medium bukan sekadar alat netral yang mengantarkan konten medium itu sendiri membentuk ulang persepsi, kebiasaan berpikir, bahkan relasi manusia dengan pengetahuan. Ketika medium berubah, pesan pun ikut berubah bentuknya. Al-Qur’an yang sejatinya menuntut tilawah yang kontemplatif dan utuh kini harus menyesuaikan diri dengan medium yang dirancang untuk perhatian sesingkat tiga detik.
"Algoritma tidak peduli apakah suatu konten membawa kebenaran, ia hanya peduli apakah konten itu memancing keterlibatan emosional."
Neil Postman, dalam Amusing Ourselves to Death: Public Discourse in the Age of Show Business (1985), telah memperingatkan bahwa televisi mengubah wacana publik menjadi hiburan: kedalaman berkorban demi kecepatan, nuansa berkorban demi dramatik. Kita kini menghadapi versi yang jauh lebih ekstrem. Platform media sosial dengan algoritma rekomendasinya tidak sekadar menghibur, tetapi aktif menyeleksi konten mana yang tampil dan mana yang tenggelam dan seleksi itu tidak didasarkan pada kebenaran, melainkan pada engagement. Konten tafsir yang serius dan kontekstual sering kalah dari kutipan ayat yang emosional dan mudah dibagikan.
Eli Pariser dalam The Filter Bubble: What the Internet Is Hiding from You (2011) menunjukkan bahwa algoritma platform menciptakan gelembung informasi, di mana pengguna hanya melihat konten yang sesuai preferensinya. Dalam konteks keagamaan, ini melahirkan tafsir konfirmasi digital: orang tidak mencari pemahaman baru dari Al-Qur’an, melainkan mencari ayat yang mengonfirmasi apa yang sudah mereka yakini. Teks suci berubah menjadi cermin emosi momentan, bukan jendela yang membuka cakrawala pemahaman.
Dampaknya nyata dan berlapis. Banyak pemahaman Al-Qur’an yang beredar di media sosial bersifat fragmentatis sepotong ayat tanpa Asbabun Nuzul, tanpa perbandingan pendapat mufassir, tanpa kesadaran bahwa satu ayat bisa memiliki puluhan tafsir berbeda sepanjang sejarah. Imam al-Suyuthi dalam al-Itqan fi ‘Ulum al-Qur’an menyebut tidak kurang dari lima belas disiplin ilmu yang dibutuhkan seorang mufassir. Protokol panjang ini kini dilompati oleh siapa saja yang memiliki aplikasi desain grafis dan koneksi internet.
Namun apakah ini murni ancaman? Tidak sepenuhnya. Beberapa inisiatif digital seperti program Tafsir Al-Mishbah dari M. Quraish Shihab atau podcast tafsir tematik membuktikan bahwa medium digital bisa digunakan untuk menyebarkan kajian yang mendalam dan kontekstual. Seyyed Hossein Nasr dalam The Study Quran (2015) mengingatkan bahwa Al-Qur’an selalu hidup dalam komunitas yang menafsirkannya yang berubah bukan hakikat teksnya, melainkan dinamika komunitas penafsirnya. Tugas kita adalah memastikan komunitas digital itu tetap terhubung dengan tradisi keilmuan, bukan memutusinya.
Solusinya bukan melarang digitalisasi Al-Qur’an itu mustahil dan tidak perlu. Solusinya adalah literasi tafsir digital: kesadaran bahwa setiap konten keagamaan digital adalah produk interpretasi, bukan wahyu itu sendiri. Pembaca perlu tahu cara memverifikasi sumber, membandingkan pandangan mufassir, dan bersikap kritis terhadap “ayat-ayat” yang viral tanpa konteks. Lembaga-lembaga pendidikan Islam tidak bisa lagi bersikap reaktif mereka perlu hadir secara proaktif di ruang digital, menghasilkan konten yang jujur secara intelektual sekaligus relevan secara estetis.
Karena pada akhirnya, Al-Qur’an tidak membutuhkan algoritma untuk bertahan ia telah hidup selama empat belas abad melampaui berbagai medium: lisan, manuskrip, cetakan, siaran, dan kini layar sentuh. Yang dibutuhkan bukan kecanggihan teknologi, melainkan pembaca yang cukup bijak untuk tidak membiarkan timeline-nya menentukan cara mereka memahami kitab suci.
Daftar Pustaka
Al-Suyuthi, Jalaluddin. Al-Itqan fi 'Ulum al-Qur'an. Beirut: Dar al-Kutub al-'Ilmiyyah, 1974. [Wafat 911 H]
Benkler, Yochai. The Wealth of Networks: How Social Production Transforms Markets and Freedom. New Haven: Yale University Press, 2006.
McLuhan, Marshall. Understanding Media: The Extensions of Man. New York: McGraw-Hill, 1964.
Nasr, Seyyed Hossein, et al. The Study Quran: A New Translation and Commentary. New York: HarperOne, 2015.
Pariser, Eli. The Filter Bubble: What the Internet Is Hiding from You. New York: Penguin Press, 2011.
Postman, Neil. Amusing Ourselves to Death: Public Discourse in the Age of Show Business. New York: Penguin Books, 1985.
Shihab, M. Quraish. Tafsir Al-Mishbah: Pesan, Kesan, dan Keserasian Al-Qur'an. Jakarta: Lentera Hati, 2002.
How to cite this article:
Fitra, Akhmad Aidil. "Tafsir di Era Scroll: Ketika Makna Ayat Bersaing dengan Algoritma", elbranstalk.com (blog), 27 Agustus 2026, [link], diakses pada tanggal [tanggal diakses].