By: Ahmad Jumaedi
Apakah Al-Qur’an tersusun dalam pola melingkar yang simetris dan konsentris? Pertanyaan ini menjadi inti dari dua karya yang diulas oleh Nicolai Sinai dalam review essay-nya, “Going Round in Circles” (Journal of Qur’anic Studies, 2017). Kedua karya yang dimaksud adalah The Composition of the Qur’an: Rhetorical Analysis karya Michel Cuypers (Bloomsbury, 2015) dan Structure and Qur’anic Interpretation karya Raymond Farrin (White Cloud Press, 2014). Keduanya berpendapat bahwa Al-Qur’an baik pada level surah maupun keseluruhan mushaf disusun dengan teknik ring composition atau komposisi cincin, yakni struktur simetris berbentuk ABA’B’ atau ABCDC’B’A’, di mana setiap elemen memiliki pasangan cerminnya. Tesis ini tentu menarik dan, jika dapat dibuktikan, memiliki implikasi yang sangat luas baik secara sastra maupun teologis. Namun, melalui ulasan yang teliti dan argumentatif, Sinai menunjukkan bahwa kedua karya ini, meski mengandung wawasan-wawasan berharga, pada akhirnya terlalu jauh melangkah dalam klaim-klaim mereka.
Komposisi Cincin dan Daya Tariknya
Sejak dekade 1980-an, para sarjana Barat mulai semakin menghargai kualitas sastra Al-Qur’an, dan salah satu pendekatan yang mendapat perhatian besar adalah ring composition atau komposisi cincin. Pendekatan ini berasal dari kajian Alkitab dan dipopulerkan oleh antropolog Mary Douglas dalam Thinking in Circles 2007 (Douglas, 2007). Cuypers mengadopsi metode analisis retorika yang dikodifikasikan oleh sarjana Alkitab Roland Meynet, yang ia terapkan pada Al-Qur’an. Ia membedakan tiga figur komposisi utama: paralelisme, komposisi cermin, dan komposisi konsentris yang terakhir dianggapnya sangat sering ditemukan di seluruh Al-Qur’an. Farrin, sementara itu, bahkan lebih ambisius: ia mengklaim bahwa seluruh Al-Qur’an memiliki struktur konsentris yang berpusat pada surah 50–56.
Daya tarik pendekatan ini jelas. Jika benar, ia dapat memperkuat argumen tentang kohesi sastra Al-Qur’an, merespons tuduhan lama bahwa Al-Qur’an hanyalah kumpulan teks tanpa struktur yang jelas, hingga dalam versi yang lebih apologetis menjadi argumen bagi kemukjizatan Al-Qur’an (iʿjaz). Farrin sendiri hampir secara eksplisit menyiratkan hal ini ketika ia menekankan bahwa Nabi Muhammad, sebagai seorang pedagang, tidak memiliki latar belakang sastra yang memadai untuk menghasilkan karya semegah itu(Farrin, 2014).
Dua Kelemahan Metodologis Utama
Sinai menunjukkan dua kelemahan mendasar yang berulang kali muncul dalam analisis Cuypers maupun Farrin.
Pertama, keduanya cenderung membagi teks Qur’ani secara sewenang-wenang demi mendapatkan pola yang diinginkan. Cuypers, misalnya, bersedia mengabaikan batas ayat yang secara jelas ditandai oleh rima ketika batas tersebut tidak cocok dengan skema konsentris yang sedang dibangunnya. Ini adalah sebuah paradoks: di satu sisi Cuypers mengklaim mengikuti “indikator komposisi yang ada dalam teks itu sendiri”, namun di sisi lain ia justru mengesampingkan rima, vokativ, dan pergeseran topik tiga penanda struktural yang paling mencolok dalam teks Qur’ani. Sinai dengan tepat menyimpulkan bahwa pendekatan Cuypers bukan induktif, melainkan deduktif: sistem Meynet diasumsikan valid sejak awal, lalu teks Al-Qur’an “didamaikan” dengan sistem tersebut, bahkan jika harus memaksa teks itu sendiri.
Kedua, korespondensi intra-teks yang diajukan keduanya seringkali lemah atau terlalu generik. Sinai mencontohkan klaim Farrin bahwa Q. 2:1–39 dan Q. 2:243–286 saling mencerminkan satu sama lain karena keduanya sama-sama membahas orang beriman vs orang kafir dan “kebangkitan”. Masalahnya, tema-tema ini muncul di hampir seluruh bagian Surah Al-Baqarah, sehingga tidak ada alasan khusus untuk memprioritaskan korelasi antara dua bagian itu dibanding bagian-bagian lainnya. Dalam metodologi ilmiah, sebuah korespondensi hanya bermakna jika ia bersifat eksklusif atau setidaknya spesifik, bukan sekadar pola generik yang bisa ditemukan di mana-mana.
Esensialisme Budaya sebagai Fondasi Bermasalah
Selain dua kelemahan teknis di atas, Sinai juga menyoroti fondasi teoritis Cuypers yang problematis: gagasan tentang “retorika Semitik” yang tersendiri dan berbeda dari tradisi non-Semitik. Cuypers berargumen bahwa budaya Semit memiliki cara berpikir dan berekspresi yang khas, yang menghasilkan karya sastra dengan hukum struktural tertentu. Ia bahkan mengutip Meynet: “orang Yunani membuktikan, orang Semit memperlihatkan.” Sinai tidak ragu menyebut pandangan semacam ini sebagai warisan dari teori rasial dan budaya abad ke-19 sebuah esensialisme budaya yang tidak memadai dalam kerangka keilmuan abad ke-21. Fakta bahwa komposisi cincin juga ditemukan dalam epik Homer yang jelas bukan produk sastra Semitik sudah cukup untuk meragukan klaim tentang kekhasan “Semitik” dari teknik ini (Cuypers, 2015).
Usulan Metodologis : Jalan Tengah yang Lebih Jujur
Meski kritis, Sinai tidak sepenuhnya menolak relevansi komposisi cincin dalam kajian Al-Qur’an. Ia mengakui bahwa beberapa analisis struktural Cuypers dan Farrin memang meyakinkan, dan bahwa sejumlah surah mungkin memang menggunakan teknik komposisi cincin dalam kadar tertentu. Yang dibutuhkan, menurut Sinai, adalah studi yang lebih impartial dan kritis: studi yang pertama-tama memetakan penanda struktural yang ada dalam teks (pergeseran topik, vokativ, perubahan rima, formula penutup), baru kemudian mengidentifikasi seluruh korespondensi intra-teks tanpa memilah-milah mana yang mendukung pola konsentris dan mana yang tidak. Alih-alih berangkat dari asumsi bahwa Al-Qur’an pasti memiliki struktur konsentris, pendekatan yang lebih jujur adalah membiarkan data berbicara terlebih dahulu.
Membaca review essay Sinai, saya tidak bisa tidak merasakan ketegangan yang sering muncul dalam kajian keagamaan: ketegangan antara semangat apologetik (atau sebaliknya, skeptisisme destruktif) di satu sisi, dan kejujuran ilmiah di sisi lain. Cuypers dan Farrin adalah dua sarjana yang jelas-jelas bersemangat dan semangat itu menghasilkan karya-karya yang menstimulasi diskusi. Namun semangat yang tidak diimbangi dengan kehati-hatian metodologis justru bisa merusak kredibilitas tesis yang ingin dibuktikan. Yang menarik, baik Cuypers maupun Farrin menarik kesimpulan historis yang berbeda dari analisis mereka: Farrin berpendapat bahwa desain menyeluruh Al-Qur’an menunjukkan satu tangan pengarang tunggal, sementara Cuypers justru menyimpulkan bahwa Al-Qur’an kemungkinan besar berasal dari milieu monastik Kristen. Fakta bahwa dua sarjana yang menggunakan metode yang sama dapat menghasilkan kesimpulan historis yang bertolak belakang sudah cukup menunjukkan bahwa metode tersebut tidak dapat menopang beban historis atau teologis yang ingin diletakkan di atasnya.
Pada akhirnya, kajian sastra Al-Qur’an adalah bidang yang masih terus berkembang, dan perdebatan tentang komposisi cincin ini adalah bagian dari pertumbuhan yang sehat. Namun seperti yang ditunjukkan Sinai, langkah maju yang sesungguhnya membutuhkan lebih dari sekadar antusiasme ia membutuhkan kejujuran dalam melihat batas-batas metode yang kita gunakan.
Referensi
Mary Douglas, Thinking in Circles: An Essay on Ring Composition (New Haven: Yale University Press, 2007).
Michel Cuypers, The Composition of the Qur’an: Rhetorical Analysis, terj. Jerry Ryan (London: Bloomsbury, 2015).
Nicolai Sinai, “Going Round in Circles: Review Essay,” Journal of Qur’anic Studies 19, no. 2 (2017): 106–147.
Raymond Farrin, Structure and Qur’anic Interpretation: A Study of Symmetry and Coherence in Islam’s Holy Text (Ashland, OR: White Cloud Press, 2014), hlm. 74.