Meninjau Kritik Neuwirth terhadap Sarjana Barat dan Sarjana Muslim

By: Syafrida Syidrotunnisa

Dalam karya Ibu Lien Iffah, beliau ingin memberikan gambaran umum mengenai pemikiran Angelika Neuwirth dengan menunjukkan posisi gagasan Neuwirth di tengah perdebatan Muslim dan Barat.

Siapakah Angelika Neuwirth?

Angelika Neuwirth adalah Professor Arabic Studies di Freie Universitas Berlin. Fokus kajiannya pada bidang sastra Arab modern dan klasik. Beliau merupakan dosen University of Jordan dan supervisor pada the Catalogue of Arabic Manuscripts di the Royal Aal al-Bayt Institute for Islamic Thought. Pada tahun 1988-1989 beliau menjadi professor tamu di ‘Ain Shams University Kairo. Neuwirth menjadi profesor di Berlin pada tahun 19991-hingga saat ini.

Bagaimana Kajian Orientalis yang Neuwirth kritisi?

Beliau bilang bahwa pada akhir  abad ke-19 dan awal abad 20 kajian orientalis di mata sarjana Muslim bersifat polemic. Nah pada tahun 2000an ada tokoh Namanya Christopher Luxenberg yang bersifat lebih dialogis. Bahkan di fase ini ada kerja sama positif antara tokoh orientalis dan sarjana muslim. Model kajiannya juga beragama seperti konsep dalam AL-Qur’an (T. Isutzu), pemikiran tokoh muslim tentang al-Qur’an, fenomena al-Qur’an dalam masyarakat (Anna M. Gade). Model-model seperti ini bertujuan untuk melihat siapa audiens al-Qur’an dan konteks sesungguhnya waktu itu (ya kurang lebih kritik -historis versi kalem dari kajian sebelumnya?). Dilihat dari sini, Angelika Neuwrith berada di posisi kritis sejarah dengan konsep al-Qur’an pra-kanonisasi dan post-kanonisasi. 

Posisi Neuwrith dalam Studi Qur’an

Dia mengkritik orientalis dahulu dengan berangkat dari anekdot orang Indian Tijuana. Seharusnya studi qur’an memandang teks sebagai sebuah media perantara yang merefleksikan proses komunikasi. Ia menambahkan bahwa pendekatan orientalis itu seperti inspektur (dalam anekdot) yang memeriksa kecurangan penyelundup (bertahun-tahun pandai menyembunyikan) ia analogikan dengan orientalis yang mendekati teks dengan memaksa aturan dan kepentingan politis. Dia mengkritik metode, pendekatan, penelusuran, dan hasil penelitian dahulu yang berat sebelah. Orientalis dahulu hanya mengaitkan Al-Qur’an dengan teks-teks dari tradisi Kristen. Mereka tidak melibatkan keterkaitan Al-Qur’an dengan masyarakat pagan, puisi Arab dan Yahudi.

Neuwirth berusaha membuat pemamahan yang lebih diterima masyarakat muslim. Ia juga mengkritisi studi al-Qur’an dalam 10 tahun belakangan hanya berfokusi pada sisi kanonisasi, bukan pada sisi oral pre-historisnya. Pemikiran utamanya adalah mengkaji al-Qur’an post-kanosisasi dengan melihat konteks kebudayaan Late Antique (pembacaan pra-kanonisasi). Tujuan penelitiaanya adalah supaya Al-Qur’an mendapatkan perhatian barat sebagaimana Bible. Selain mengkritik orientalis, ia juga mengkritik sarjana muslim yang masih mensakralkan al-Qur’an yang menyebabkan Al-Qur’an tidak bisa dipelajari  secara sistematis seperti sastra. 

Pandangan Neuwirth terhadap Al-Qur’an

Sebelum mengetahui pandangannya terhadap Al-Qur’an, perlu diketahui bahwa pandangannya mengenai wahyu sama dengan dengan pendapat Nashr Hamid bahwa Al-Qur’an memiliki kode. Al-Qur’an merupakan proses komunikasi antara Tuhan, Nabi Muhammad, dan pembaca sehingga untuk memahami kodenya kita perlu mengetahui sisi kebahasaan, sastra, dan konsep kontekstual ayat ketika diturunkan.

Lalu, Bagaimana Konsep Intertekstualitas yang Ditawarkan Neuwirth?

Studi kritik Neuwirth sebenarnya berangkat dari apa yang telah dilakukan Noldeke. Neuwirth melihat Al-Qur’an sebagai teks masa lampau yang memiliki keterkaitan dengan teks-teks lain pada abad 7 M. Ia ingin melakukan periodisasi Al-Qur’an secara valid melampaui kajian-kajian yang sebelumnya. Dalam penelitiannya, ia membagi Al-Qur’an menjadi dua bagian yaitu pra-kanonisasi (masa Nabi Muhammad Saw.) dan post-kanoniasi (pada masa Utsman). 

Langkah awal yang dia lakukan adalah menganalisis teks secara detail dari bagian-bagian kecilnya (mikro-teks). Dalam pendekatannya, Neuwirth melihat Al-Qur’an sebagai teks sastra sekaligus teks komunikasi. Ia menganalisis satu per satu surah dengan membaca ayat sebagai teks sastra yang terstuktur kenudian melihat catatan proses komunikasi antara wahyu dengan teks-teks yang terhubung. Setelah itu, baru ia menggunakan intertekstualitas dengan membandingkan Al-Qur’an dengan berbagai teks dan tradisi pada masa late antique.

Kesimpulan

Artikel yang ditulis oleh Bu Lien mengenai overview Angelika Neuwrith dengan mendeskripsikan secara lengkap kritiknya terhadap sarjana Muslim dan Barat, konsep pemikirannya, aplikasi intertekstualiatas metodenya mengenai Al-Qur’an. Jurnal ini akan membantu mahasiswa yang memiliki minat terhadap kajian orientalis, khususnya Angelika Neuwirth. Apa yang dilakukan Neuwrith merupakan kebaruan kajian intertekstualitas yang melampaui kajian sebelumnya yang cenderung memaksa Al-Qur’an memberikan jawaban. Dengan demikian, selayaknya peneliti di bidang studi Qur’an, kita perlu untuk memberi kontribusi untuk studi Qur’an khususnya pada kajian intertekstualitas untuk meneruskan usaha Neuwirth.

Referensi

Fina, L. I. (2016). Catatan Kritis Angelika Neuwirth Terhadap Kesarjanaan Barat dan Muslim Atas Al-Qur'an Menuju Tawaran Pembacaan Al-Qur'an Pra-Kanonisasi. Nun, Vol.2, No. 1, 58-80.

Nur, Z., Ma Iballa, D. K., & 'Azima, F. M. (2024). Komparasi Studi Historis-Kritis Al-Qur'an Orientalis (Studi Pemikiran Abraham Geiger, Theodor Noldeke, dan Ngelica Neuwirth). Hamalatul Qur'an:Jurnal Ilmu-Ilmu Al-Qur'an, Vol.5 No.2024, 654-662.

Purnama, F. R. (2021). Ragam Studi Qur'an: Teori dan Metodologi Kontemporer (Analisis Terhadap Pemikiran Abdullah Saeed, Andrew Rippim, Asma Barlas, dan Angelika Neuwirth). Al-Wahid, Vol. 2 No. 1, 319-340.