By: Fithrah Lathifah
Pada kajian Islam klasik, penguasaan bahasa-bahasa sumber menjadi kunci utama untuk memahami warisan intelektual yang kaya dan kompleks. Jika selama ini bahasa Arab, Persia, dan Yunani sering disebut sebagai bahasa penting dalam tradisi keilmuan Islam, maka bahasa Suryani sering terlupakan padahal perannya tidak kalah vital, terutama dalam konteks sejarah awal Islam dan perkembangan ilmu keislaman. Menguasai bahasa Suryani membuka pintu menuju sumber-sumber kuno yang menjadi fondasi bagi banyak karya ilmiah awal, baik dalam bidang teologi, filsafat, maupun filologi Al-Qur’an. Bahasa Suryani adalah turunan dari bahasa Aram, yang digunakan secara luas di Timur Tengah sejak berabad-abad sebelum munculnya Islam. Bahasa ini menjadi medium utama bagi komunitas Kristen Timur, khususnya Gereja Timur dan Gereja Ortodoks Suryani. Banyak karya teologis, filosofis, dan ilmiah dari masa pra Islam dan awal Islam ditulis dalam bahasa ini. Karena itu, bagi peneliti yang ingin menelusuri akar-akar intelektual Islam, kemampuan membaca teks Suryani merupakan keterampilan yang sangat berharga.
Salah satu alasan utama pentingnya mempelajari bahasa Suryani adalah akses terhadap teks-teks kuno. Banyak teks yang menjadi rujukan intelektual Muslim awal seperti terjemahan karya-karya Yunani ke dalam bahasa Arab sebenarnya melewati tahap penerjemahan dari Yunani ke Suryani terlebih dahulu, baru kemudian ke Arab. Para penerjemah Suryani, seperti Hunayn ibn Ishaq dan keluarganya, memainkan peran besar dalam proses transmisi ilmu pengetahuan dari dunia Yunani ke dunia Islam. Memahami Suryani, seorang peneliti dapat menelusuri lebih jauh istilah-istilah ilmiah yang sering kali mengalami perubahan makna saat berpindah bahasa, serta menilai secara kritis bagaimana ide-ide Yunani diadaptasi ke dalam konteks Islam.
Selain itu, penguasaan Suryani juga membantu dalam studi filologi dan tafsir Al-Qur’an. Beberapa ahli bahasa dan sejarawan modern, seperti Christoph Luxenberg, berargumen bahwa sebagian kosakata dalam Al-Qur’an memiliki akar Suryani atau Aram, bukan murni Arab. Meskipun teori ini masih menuai perdebatan, ia menunjukkan bahwa pemahaman lintas bahasa Semit penting untuk menelusuri asal
Usul kata dan struktur linguistik Al-Qur’an. Dalam hal ini, belajar Suryani bukan berarti meragukan kesucian teks Al-Qur’an, melainkan memperkaya pendekatan ilmiah dalam memahaminya, terutama dari sisi sejarah bahasa dan tafsir. Bahasa Suryani juga menjadi jembatan penting dalam memahami interaksi intelektual antara umat Muslim dan komunitas Kristen Timur pada masa awal Islam. Banyak dialog teologis dan perdebatan filosofis terjadi dalam konteks bilingual Arab dan Suryani. Beberapa naskah apologetik, surat-menyurat antarulama, serta komentar Alkitab atau Al-Qur’an dari abad ke-7 hingga ke-9 menggunakan bahasa ini. Dengan menguasai Suryani, peneliti dapat membaca langsung perspektif pihak lain tanpa bergantung pada terjemahan sekunder yang sering kali bias.
Pada sisi spiritual dan budaya, belajar bahasa Suryani juga membuka wawasan tentang kedekatan akar-akar bahasa Semit. Bahasa Arab, Ibrani, dan Suryani memiliki kesamaan struktur dan akar kata. Pemahaman terhadap hubungan ini dapat memperdalam penghargaan terhadap keindahan linguistik Al-Qur’an dan memperkaya pengalaman keagamaan seseorang dalam mempelajari teks-teks Islam klasik. Dalam konteks modern, mempelajari Suryani juga menjadi bentuk pelestarian warisan intelektual Timur Tengah yang kini terancam punah akibat konflik dan hilangnya komunitas penutur aslinya. Berdasarkan hal ini, menguasai bahasa Suryani bukan hanya sekadar tambahan akademis, melainkan langkah strategis bagi siapa pun yang serius mendalami studi Islam. Ia membuka pintu bagi teks-teks yang selama ini tersembunyi di balik lapisan sejarah, memperluas perspektif dalam memahami Al Qur’an, dan mempererat hubungan antara tradisi intelektual Islam dengan akar-akar Semitiknya. Bagi seorang peneliti muda yang hendak mendalami ilmu-ilmu Islam secara mendalam, mempelajari Suryani berarti kembali ke sumber mata air pertama di mana sejarah, bahasa, dan spiritualitas saling bertemu.